Tikungan Terakhir Jokowi: Pasang APBD di Pos Hansip..!

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2012/09/15/tikungan-terakhir-jokowi-pasang-apbd-di-pos-hansip/

13477054751843327010

Jokowi-Foke, Rivalitas paling panas sekaligus paling jenaka dalam sejarah politik modern di Indonesia (Sumber Foto : Merdeka.com)

Perdebatan malam ini merupakan tikungan terakhir bagi pertarungan Jokowi dan Foke, inilah pertarungan politik paling gegap gempita di masa Reformasi, pertarungan politik dalam alam demokrasi liberal yang kita hirup saat ini. Sepanjang sejarah Indonesia modern belum ada pertarungan politik secara terbuka, jenaka, dinikmati rakyat banyak, melibatkan berbagai macam media dan tingkat partisipatif rakyat yang kuat dalam akses keterlibatan kampanye mereka.

Bila di masa Revolusi Kemerdekaa atau di masa Sukarno, persaingan politik bisa berakhir pada pemberontakan daerah, penculikan-penculikan dan berbagai macam intrik yang keras antar pemain politik sementara di masa Suharto persaingan politik nyaris tidak ada karena seluruh lini kekuasaan dikendalikan oleh Suharto. Persaingan politik yang serius hanya terjadi pada lingkaran pertama kekuasaan Suharto (ring satu) seperti persaingan Jenderal Mitro Gendut dengan Mayjen Ali Moertopo dalam Malari 1974 atau persaingan antara Jenderal LB Moerdani dengan Letjen Sudharmono yang kemudian menjadi Wapres RI, persaingan panas ini amat terasa saat terjadi insiden Brigjen Ibrahim Saleh melakukan interupsi politik dan ada kabar pasukan di Jakarta bersiaga satu mengepung gedung DPR di tahun 1988. Persaingan paling terkenal dan keras adalah persaingan antara Letjen Prabowo dengan Jenderal Wiranto yang sangat kental dengan nuansa perubahan paling revolusioner Politik Indonesia, di tahun 1998.

Rivalitas baik di masa Sukarno dan masa Suharto selalu melibatkan di massa bawah dengan gontok-gontokan, tapi untuk masa reformasi ini, kasus Jokowi melawan Foke sama sekali tidak ada pertarungan fisik terbuka, pertarungan hanya keras di berbagai Sosial Media dan debat-debat publik di Televisi, serta rakyat menikmati dengan nyaman dan aman. Ini mungkin buah keterbukaan reformasi yang paling manis dalam sejarah evolusi politik di Indonesia.

Pertarungan antara Jokowi dan Foke, mirip dengan pertarungan balapan Formula One (F1) di berbagai sirkuit kelas dunia. Semuanya saling memacu di tikungan, tapi memang harus diakui hampir di tiap lap Jokowi memenangkan pertarungannya, hanya saja Foke memacu lebih keras pada tikungan terakhir. Mari kita simak lagi kronologis pertarungan di berbagai lintasan politik antara Jokowi dan Foke.

Lintasan Pertama : Jokowi menang di Start

Pada lintasan ini kubu Foke menganggap enteng semua lawan, ada indikasi mereka merasa kuat di seluruh sektor persiapan politik pilkada 2012, mereka menganggap enteng lawan dan tidak ada gebrakan dari tim suksesnya untuk melakukan kejutan politik yang sifatnya menguntungkan kubu Foke.

Sementara di kubu Jokowi, pemikiran untuk menggebrak sudah ada, mereka menyiapkan jauh-jauh hari. Seluruh perkembangan berita mereka ikuti, seluruh keberhasilan-keberhasilan di Pemda Solo akan dijadikan gebukan pertama menghantam kesadaran masyarakat. Geberan pertama Jokowi adalah mempromosikan Esemka, sebuah mobil rakitan anak-anak STM Solo yang bisa jadi kesadaran bahwa bangsa ini bisa membuat mobil sendiri bila ada political will dan kesadaran kolektif.

Jokowi membawa persoalan mobil ini ke tingkat nasional, ia bahkan mempersiapkan secara rinci seluruh alur promosi agar mobil buatan anak-anak Esemka dijadikan alat pembangkit kesadaran berproduksi bangsa sendiri.

Dengan gayanya yang khas, kharismatis dan disukai rakyat banyak, Jokowi membawa mobil Esemka sebagai kendaraan dinas, dia duduk di kap mobil Esemka, dia menyetir mobil Esemka dan ternyata sambutannya diluar perkiraan, luar biasa. Rakyat yang tadinya tidak mengenal Jokowi melihat munculnya seorang politisi paling berbakat di negeri ini untuk menjadi negarawan besar. Lalu berbagai sentakan media sosial menjadi kunci pembuka kemenangan Jokowi dalam lap pertama.

Jokowi menggeber lagi dan menyalip Foke yang ketinggalan jauh, si Foke hanya bisa mengusap-usap kumisnya sembari geleng-geleng kepala, ketika Jokowi dengan bombastis membawa satu pasukan mobil Esemkan mengepung Jakarta, gebukan pertama Jokowi ini membuat Foke harus menggencet lebih jauh gas politiknya, namun terlambat bagi Foke, mobil-mobil Esemka Jokowi sudah mengepung Jakarta.

Lintasan Kedua : Foke Bernafas Lega, Mobil Jokowi ditolak.

Foke sepertinya harus segera ambil air hangat dan mengusap mukanya, ia terlambat jauh di lap pertama, ia hanya berharap diuntungkan keadaan, pada lintasan kedua Foke mencoba menyamai Jokowi, ternyata berhasil, rupanya kubu Pemerintah tidak begitu menyukai Jokowi, alih-alih membangkitkan semangat gerakan memproduksi mobil nasional, Pemerintah menggagalkan uji emisi Esemka. Disini pesanan 6.000 mobil Jokowi terbengkalai, Jokowi melambatkan gas politiknya, sementara Foke menyamai posisi Jokowi, ketika nyaris melewati Jokowi, Foke tersedak dengan kejeniusan cara menyetir F1 Politik Jokowi.

Di Lintasan kedua inilah saat Foke ingin menggebuk Jokowi, ternyata Jokowi mengeluarkan ilmu pemasaran paling efektif (Positioning), ia menciptakan demam baju kotak-kotak. Positioning Foke yang berkumis malah jadi sebuah brand antagonis, sementara Jokowi mampu menjadikan baju kotak sebagai baju Protagonis, disini dengan baju kotaknya, Jokowi sudah menjadikan dirinya sebagai Haji Sulam yang manis dan sabar, sementara Foke seperti Haji Muhidin yang penuh prasangka dan gampang marah. Foke ketinggalan lagi di Lintasan Kedua.

Lintasan Ketiga : Foke habis-habisan dihajar di Sosial Media

Pada lintasan ketiga ini adalah lintasan paling buruk bagi kubu Foke di lintasan pertama, kubu Foke dan para agen kemenangan politiknya tidak menyadari kekuatan Sosial Media, mereka masih pake gaya lama, pasang spanduk dimana-mana mengotori kota. Sementara kubu Jokowi terkonsentrasi pada penguasaan Sosial Media di tiga titik : Twitter, Facebook dan Kompasiana. Tiga sarang sukarelawan politik Jokowi yang jadi ‘Markas Para Jenderal Kotak-Kotak’ memproduksi serangan politik dan membawa panji-panji kemenangan bagi Jokowi. Kekuatan utama Jokowi bukan terletak pada Tim Suksesnya tapi pada gerakan ribuan sukarelawan yang jaringannya tidak saling mengenal, mereka memiliki musuh bersama yaitu : “Pembongkaran Pembusukan Kekuasaan”. Ini yang tidak disadari kubu Foke. Mereka terlambat masuk ke Sosial Media, para Jenderal lapangan Foke hanya sibuk di jaringan yang mereka kenal, mereka gagap masuk ke Sosial Media.

Di Sosial Media inilah mereka menguasai jaringan, seperti gerakan revolusioner, tempat-tempat publik harus dikuasai : Twitter, Facebook dan Kompasiana adalah tempat yang paling tepat untuk menguasai medan informasi. Sementara ring kedua-nya adalah kaskus yang jaringannya lebih cair.

Di Twitter awalnya ada pembalap politik yang terdepan tapi masih jauh dari Jokowi, yaitu kubu Faisal Basri, namun mereka hanya pintar bermain di Sosial Media, tidak masuk ke lumpur rakyat, Faisal Basri tidak dikenal rakyat banyak, ia gagal menjadi populis pendukungnya hanya segelintir kelas menengah. Ada lagi pemain di sosial media yang gigih, bahkan membuat halaman khusus di sarang jokowi yaitu : Kompasiana, dengan masuk kolom khusus yaitu PKS dengan Hidayat Nurwahid-nya, namun ribuan pendukung Jokowi di Kompasiana sudah menguasai medan pertempuran, otomatis Kompasiana dikuasai kaum Jokowi. Di Twitter, awalnya kaum Jokowi kalah dengan kubu Faisal Basri yang banyak didukung kelompok intelektual dan sebagian neolib-neolib yang berharap Faisal Basri menjadi satu garis dengan Sri Mulyani, namun akhirnya gerilyawan Jokowi menguasai keadaan, dimasa itu ada salah satu komandan lapangan Jokowi yaitu Trio Macan 2000 yang habis-habisan menghantam Foke disini Komandan Trio Macan 2000 sepertinya ingin membentuk negara dalam negara di Republik Twitter, tapi kemudian TM 2000 kelak akan membelot ke kubu Foke dan dijadikan serangan utama kaum gerilyawan Jokowi.

Pada putaran ketiga Jokowi menang diikuti oleh kubu Faisal Basri dan Hidayat Nurwahid.

Perang Juli 2012

Perang Juli 2012 adalah tikungan paling tajam untuk menghancurkan kekuatan masing-masing, pada putaran ini kubu Jokowi memenangkan putarannya dengan tipis, ia mengandalkan kekuatan kunjungan pasar, sosial media dan pengenalan publik, sementara kubu Foke masih tersedak, mereka hanya mengais-ngais sisa dukungan politik, sementara paling memalukan adalah Hidayat Nurwahid dengan PKS-nya, yang hanya meraih 11% suara, melorot hebat, mungkin para pemilih saat ingin mencobos Hidayat Nurwahid inget wajah Arifinto salah satu anggota PKS dengan tontonan porno-nya, akhirnya mereka batal dukung Hidayat Nurwahid.

Pada perang Juli 2012, Kubu Foke yang dibohongin para analis politik menanggung malu, dengan muka muram dan dipaksa naik ke panggung, Kubu Foke melihat jagoannya tertunduk lesu di depan sang Penantang Jokowi yang disambut sorak sorai kemenangan.

Sirkuit Kedua : Lintasan Pertama, Jokowi digebuk di Twitter.

Di masa ini kaum gerilyawan Jokowi larut dalam kemenangan politik, mereka menyerang dengan sedikit arogan kepada kubu lawan. Tapi kubu Foke diam-diam menyebarkan kekuatan pasukan telik sandi (telik sandi =intelijen, bhs Jawa) yang hebat, target pertama mereka menyebarkan seluruh pendukungnya untuk menguasai sumber-sumber informasi di Sosial Media, serangan dilakukan di Kompasiana dengan banyaknya beredar akun-akun baru yang tiba-tiba terus mendukung Foke dan mencaci maki setiap pendukung Jokowi, sementara di Twitter mereka mendapatkan panglima terbesarnya Trio Macan 2000. TM 2000 menjadi semacam Jenderal Zhukov-nya Foke, di titik inilah TM 2000 menyetir situasi walaupun digebuk sana sini, kekuatan TM 2000 amat efektif menggoyang kekuatan twitter. Satu-satunya yang tak tersentuh oleh pasukan telik sandi adalah facebook, karena di fb ada peraturan baru, akun baru susah mendapatkan teman dan dukungan. Mereka sama sekali tak kuat di fb, di facebook kaum Jokowi amat menguasai medan, di fb dan Kompasiana pula kaum gerilyawan Jokowi mencoba menggebuk TM 2000, di kompasiana TM 2000 mencoba masuk tapi gagal karena dia tidak tau cara berkomunikasi dalam jaringan Kompasiana, disini TM 2000 menanggung malu, namanya tidak setenar di twitter.

Kompasiana kemudian berhasil direbut kembali oleh kelompok kaum gerilyawan Jokowi, sedikit demi sedikit kelompok Foke berhasil diseret ke lembah kekalahannya, puncaknya adalah tulisan seorang lulusan Mesir tentang A Hok yang menandai kompasiana dikuasai lagi kelompok Jokowi. Di Kompasiana kubu Jokowi mendapatkan kemenangan paling manisnya dalam sosial media, berbeda dengan Twitter yang praksis kalah total karena kubu Jokowi tidak berhasil menggaet jenderal lapangan besar yang mampu menghadapi TM 2000. Tapi kemudian TM 2000 yang awalnya menguasai twitter justru diganyang oleh kelompok non sukarelawan Jokowi, mereka meragukan keabsahan tweet TM 2000 karena secara sepihak TM 2000 menghapus twit tentang korupsi Foke, disini kemudian merebak TM 2000 hanyalah pasukan bayaran belaka. Inilah yang kemudian merusak reputas TM 2000 yang awalnya disebut sebagai twit paling dipercaya dalam gosip-gosip ring satu di sekitar Presiden RI.

Tapi kekalahan Jokowi di twitter, berhasil diselamatkan dengan manis oleh sekelompok anak muda yang menayangkan Youtube parodik paling keren sepanjang sejarah Youtube buatan musisi Indonesia, parodi ini menggambarkan secara dinamis perubahan politik Jokowi.  Dan lucunya kelompok yang ditengarai pendukung Foke mengeluarkan youtube tidak bermutu sama sekali tentang Sri yang terancam dipulangkan ke Solo dan membuang baju kotak-kotaknya, di youtube ini kubu Jokowi amat keren sekali.

Sirkuit Kedua : Lintasan Kedua.

Masa ini adalah masa paling berat dalam kubu Jokowi, karena mereka menurunkan tensi serangan politiknya untuk menghormati bulan Ramadhan. Tapi kubu Foke justru memanfaatkan bulan suci ini dengan isu-isu SARA, walaupun kemudian kubu Foke tidak mengakui salah satu pelopor isu SARA adalah tim suksesnya yaitu Oma Irama, namun kubu Foke berhasil sedikit membangun opini disini, tapi Tuhan maha adil ketika kubu Foke mulai mengangkat opini A Hok, mereka tersandung di Jokowi, justru Oma Irama sendiri yang menuding ibu bapak Jokowi adalah Kristen, jelas hal ini terbantah, ketika ibunda Jokowi dihadapkan secara langsung oleh media head to head dengan omongan Oma Irama, dan berkata : “saya sudah tua jangan diikut-ikutkan”. Kubu Oma Irama hancur total, bahkan di ILC TV One, kabar gosip itu Oma Irama dapatkan dari internet, inilah yang kemudian menjulangkan nama Jokowi sebagai pemenang politik di putaran kedua sekaligus meredamkan isu bagi A Hok yang tidak berdasar sama sekali.

Disini kemudian juga disisipkan politisi pelawak Amien Rais yang selalu berkomentar dan berusaha menjadi king maker seperti di masa lalu, namun alih-alih jadi King Maker seperti tahun 1998 dan 2001, ia malah jadi Joker yang dipermalukan disana sini. Amien Rais dihantam habis didepan pendukung Jokowi terutama kaum PDIP yang punya simpanan dendam masa lalu pada Amien saat operasi penggagalan Megawati di tahun 1999 lewat rekayasa politik “Poros Tengah”, sekarang Amien Rais mencoba bermain untuk menaikkan gengsi politiknya, tapi dia seperti pelawak tua yang tak didengar lagi.

Lintasan Ketiga : Menjelang Tikungan Terakhir

Kubu Jokowi kemudian mengendurkan syarafnya mereka bersiap pada tikungan paling tajam yaitu perdebatan politik. Namun mundurnya kelompok Jokowi dari front terdepan pertempuran diambil alih Foke, mereka menggarap wilayah kosong, seluruh area di DKI tergantung gambar Foke dengan tulisan : “Terima Kasih Bapak Foke” baik di Puskesmas, depan kantor kelurahan, pinggir jalan tol, depan puskesmas dsb. Kubu Foke menguasai ruang publik tapi kubu Jokowi diam saja, puncaknya adalah usaha klaim Foke terhadap Proyek Banjir Kanal Timur (BKT) sebagai Proyek dirinya sendiri, padahal Pemda DKI hanya urus soal penggusuran tanah bukan keseluruhan penyelesaian teknis, seluruh persoalan teknis dikuasai Departemen PU, tapi apa mau dikata Departemen PU dikuasai Partai Pemerintah pendukung Foke, maka klaim itu didiamkan saja.

Disini kubu Jokowi melemah, namun harus diperhatikan Jokowi mempunyai trik khusus untuk meninggalkan lawan di tikungan terakhir. Di Tikungan ini Jokowi harus mengangkat banyak soal seperti Jokowi harus menjelaskan bahwa kegagalan Monorel bukanlah kegagalan swasta tapi soal lalainya Pemerintah Daerah DKI dalam persoalan keterbukaan kasus sebenarnya, disini harus dibuka lebar-lebar penyebab masalahnya apa, kedua, soal gagal totalnya Foke melanjutkan politik transportasi publik, ketiga adalah meminta penjelasan pada Foke soal “Kenapa klaim BKT itu dinisbahkan pada Pemda DKI padahal itu kerjaan Departemen PU atau Pemerintahan Pusat?”.

Satu kuncian terbesar kemenangan Jokowi disaat ini adalah “Kemampuan Jokowi dalam melakukan penawaran politik berupa penjelasan Politik anggaran Pemda DKI disini pemerintah dalam 5 tahun menggelontorkan dana Rp. 145 trilyun ke Pemda DKI kemana kanal ini harus diterima, disini Jokowi harus secara cerdas merinci arus dana tersebut dan bagaimana pelabuhan-pelabuhan keuangan rakyat. Jokowi harus berkata berkali-kali di depan debat publik : “Ya saya akan pasang laporan Anggaran Pemda DKI berikut pengeluarannya kalau perlu sampai ke Pos-Pos Hansip agar rakyat dapat membacanya..!!”

Bila Jokowi melakukan ini berkali-kali dan berulang-ulang, maka rakyat DKI akan memilih Jokowi, karena politik keterbukaan anggaran ini yang tidak dimiliki Foke pada masa 5 tahun pemerintahannya. Selain tentunya kegagalan terbesar Foke dalam mengelola manajemen konflik di DKI seperti kasus pembantaian mengerikan makam mbah priok Koja tahun 2000.

-Anton DH Nugrahanto-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s